Senin, 29 Oktober 2012

GURUNYA MANUSIA -MUNIF CHATIB


GURUNYA MANUSIA
MUNIF CHATIB
24 September 12

Buku ini adalah buku seri kedua “Manusia” setelah sekolahnya manusia. Buku ini menyusul buku yang pertama menjadi best seller. Dan di terbitkan oleh KAIFA.
Di permulaan BAB, penulis mereview sedikit tentang Sekolahnya Manusia, termasuk juga suka duka sekolah manusia. Kemudian BAB berikutnya menyuguhkan rangkaian mengajar. Salah satu yang menarik adalah seine setting.
Bagi para pendidik, atau siapapun pemerhati pendidikan, buku ini menjadi sangat pentig untuk di konsumsi. Mengapa?, Pendidik jadi tau bagaimana menjadi GURU MANUSIA, dan Pemerhati Pendidikan jadi tau tujuan pendidikan seharusnya.
Melalui RPP, guru bisa di katakana professional dan tidak. Karena itulah tolok ukur ampuh penentu guru itu layak dikatakan professional atau tidak. Selain itu, di singgung tips juga bagimana memilih sekolah yang benar-benar sekolah unggulan.
Dalam buku ini, di perdalam juga Multiple Intelligences (MI), di sertai beberapa contoh aplikasi MI. Kemudian pada bagian akhir buku ini, di tutup dengan testimony dari tokoh-tokoh yang di perhitungkan.

Alhamdulillah

Senin, 08 Oktober 2012

Resensi


PADA-MU AKU BERSIMPUH
GOLA GONG
(8 September 12)
Bayi mungil tak berdosa itu dibuang di stasiun kereta api- Bayi mungil, cantik yang kelahirannya tidak diharapkan oleh kedua orangtuanya di karenakan status hubungan keduanya tidak sah secara agama. Hari Natadingrat pengusaha sukses melakukan hubungan yang tidak sepatutnya dilakuakn oleh siapapun sebelum menikah, Natalia, Aktris sekaligus model yang menjadi simpanannya.
Beruntung bayi itu Allah pertemukan dengan Bik Etik, ibu penjual nasi uduk, yang mengajarkan dan mendidiknya seolah anaknya sendiri. Di tangan Bik Etik lah Siti Nurkhasanah, nama bayi itu, tumbuh menjadi anak yang salihah.
Anah, nama panggilan bayi itu, tenggelam dalam tangis yang dalam ketika Bik Etik meninggalkannya untu pulang dalam rumah singgah menuju kehidupan abadi di usianya yang ke sepuluh. Itu berarti Anah benar-benar yatim piatu. Beruntung, atas kebaikan Bik Etik yang selalu memberi sarapan gratis untuk Pak Soleh, Pengemis yang memiliki satu kaki, akhirnya Allah membalas kebaikannya pula dengan kesediaan Pak Budiman menjadi Bapak Asuh anak pungutnya, Anah.
Bersama Basir, dan Hakim, Anah mendapat penjagaan dari keduanya. Terutama Basir yang selalu setia menemani Anah, bahkan dia menjadi kakak yang siap melabrak siapa saja yang mencibir Anah sebagai “anak yang tidak memiliki identitas jelas”. Baik Basir maupun Hakim, keduanya mencintai Anah, dan hal itu tercium oleh Pak Budiman ,Ayah mereka sendiri, Pengusaha sekaligus Pemilik Pesantren. Hanya saja Hakim lebih memilih diam, dan menyimpan persaan itu. Berbeda dengan Basir, yang lebih menampakkan perasaannya pada Anah namun Basir tidak terang-terangan mengatakan bahwa ia mencintai Anah.
Anah yang akhirnya memiliki persaan yang sama terhadap basir, namun ia juga menutupi hal itu. Anah takut mencoreng nama baik keluarga Pak Budiman. Ayah Asuhnya. Sampai pada suatu malam pelepasan SMA, Anah dan Basir di jebak oleh Dicky CS. Dicky berhasil membujuk Anah untuk dia antar pulang dengan mengatas namakan peritah dari Basir yang ternyata Basir juga di jebak di Royal oleh orang suruhan Dicky. Di Mobil, Anah di bius dan tidak sadarkan diri.
Anah sangat kaget ketika ia sadarkan diri dan pekaiannya telah tanggal. Dicky-pun kaget karena obat bius itu tidak berkompromi dengan kehendaknya. Dengan nafsu syaitannya, Dicky terus berusaha agar tidak menyia-nyiakan rencananya menyetubuhi Anah. Di tengah kalut yang amat dalam, Allah menolong Anah. Tedi, rekan Dicky, mendobak pintu dan menyelamatkan Anah. Tedi meminta Anah untuk pergi, sementara ia mencekal Dicky yang akhirnya Tedy terbunuh oleh Dicky.
Anah merasa telah kotor dan telah mencoreng nama baik keluarga Pak Budiman. Bahkan ia segan untuk bertemu Basir, takut basir menganggapnya gadis murahan dan kotor. Anah pun lari kepantai, berharap bisa mensucikan diri. Namun akhirnya Anah tidak sadar diri.
Anah jatuh kedalam luka dan kengerian, Allah dengan kemurahan-Nya mempertemukan Pak Rahmat dengannya. Pak Rahmat membawa Anah kerumah ketika Anah tidak sadarkan diri. Keluarga Pak Rahmat merasa senang dengan kehadiran Anah. Kemudian Anah meminta izin kepada Pak Budiman untuk bisa tinggal di Jakarta bersama Keluarga Pak Rahmat karena ia butuh ketenangan dan ingin melupakan kejadian pahit bersama Dicky. Pak Budiman pun mengizinkan, dan akhirnya Pak Rahmat menguliahkan Anah di Kedokteran dan mengabulkan cita-cita untuk menjadi dokter.
Tujuh tahun berlalu, genting lagi-lagi menyandra Anah ketika mendengar Pak Budiman menjadi korban tabrak lari orang suruhan Dicky. Detik-detik terahir kematian, Pak Budiman mewasiatkan kepada Anah dan Hakim untuk menikah.
Beberapa hari setelah menikah, sembilu menyayat hati Anah dan mengucurinya dengan garam. Perih, sangat perih. Ketika Basir berhasil mengungkap teka-teki dari kotak titipan Buk Etik. Akhirnya Anah tau bahwa Hari Natadiningrat, pemilik klinik tempat dimana dia bekerja adalah ayahnya sendiri, ayah yang tega membuangnya. Namun Anah dengan besar hati memaafkan Ayah dan Ibunya. Di akhir cerita, Anah pun kembali berkumpul dengan Ayahm dan Ibu Kandungnya.



Alhamdulillah

Sabtu, 16 Juni 2012

SENJA DI PENGHUJUNG RAJAB KETUJUH




Muhammad Zuhri Anshari

“Aku memamng tak pantas bersanding dengan wanita baik. Namun terkadang aku berfikir adakah wanita yang mau menerimaku dengan segala kekuranganku untuk menjadi imamnya.” Ucap Izul pelan, seiring angin yang ramah menyapa kalimatnya barusan.
Cahaya keemasan menerobos celah jendela sore ini, membasuh tubuh yang tengah khusuk berdiri didekat jendela. Meratapi setiap gerak gerik orang yang sedang asyik bercada ria dibawah sana, di lihatnya segerombolan anak kecil tertawa riang menjelang senja ini. Senja di bulan Rajab ke-7.
Angin yang riang berusaha menghibur siapa saja yang dia lewati, termasuk Izul. Tawa renyah anak-anak dibawah sana menggiurkan dirinya, sekaligus menyuguhkan sesak yang kian merasuk menusuk rongga hidup yang masih mubham [Istilah yang digunakan dalam ilmu nahwu yang menunjukkan arti belum jelas] dihadapannya. Angin masih berayun-ayun, menyelusup dalam ruang-ruang hampa, dan bersuka ria. Sejuk. meski langit mulai pekat, seiring senja yang mulai menutup cahaya.
Jalanan seperti biasanya, mengisahkan cerita dalam simpang siur kehidupan kian kemari, seperti waktu yang terus memacu masa dan usia, namun waktu lebih unggul dari kendaraan tercanggih manapun, waktu selalu gagah tak terkalahkan. Hingga waktu mengajaknya sampai pada senja ini, hingga ramadhan ketujuh dari pengharapan yang masih dipenuhi kemubhaman.
Enam huruf yang merubah keangkuhan menjadi kesederhanaan, enam huruf yang mengajarkan hidup. Nindya. Gadis itulah yang memetamorfosis kehidupan Izul, Enam huruf yang mengajaknya pada enam keimanan terhadap sang pencipta. “Yakinlah, apapun yang terjadi kepada kita nanti merupakan keputusan terbaik dari Allah. Dengan cara seperti inilah saya menjaga kemurniannya, tidak ada yang perlu kita takuti, keputusan Allah tidak akan menyakiti” kalimat itulah yang menyihir kematian hati menjadi hidup.
Lafazh surat Al-Isra’ yang pernah dilantunkan Nindya saat Peringatan Isra’ Mi’raj 1426 H yang kemudian menjadi Rajab pertama pertemuan Izul dengannya masih teringat jelas terngiang sampai pada saat ini, Rajab 1433 H. Rajab ke-7.
Lafazh yang mengantarkannya pada keteduhan, ketentraman, dan keindahan. Tidak hanya itu, melalui lafazh itu kemudian menumbuhkan cinta serta rindu terhadap Nindya, yang berhasil menyibak kabut ketakutan ketika senja datang, senja yang menyakitkan.
Enam huruf menumbuhkan tiga kata – khauf (takut), roja’ (harap), khubb (cinta)- dalam diri Izul. “Aku tau takdirku atas-Mu, bahkan bertemu atau tidak aku dengannya adalah rahasia-Mu. Lalu bagaimana jika benar yang aku takutkan selama ini terjadi?, ketika orang lain yang Engkau takdirkan bersamanya. Tentu jika tanpa Cinta-Mu, aku terjatuh dalam lara yang teramat mendalam, sesak yang merongrong secuil imanku, dalam gersang yang menggerogoti taqwaku yang tak seberapa, dan dalam gundah yang bisa saja aku melenakan-Mu.” Sayup kalimat itu terdengar dari tubuh yang mulai lelah.
Senja mulai menjemput malam, ketika mentari sudah semakin habis dan beberapa lampu rumah di dusun itu sudah dinyalakan. Sebentar lagi maghrib berkumandang dari surau yang tidak jauh dari tempat Izul saat ini.
Senjapun mulai mengembang. Mentari sudah tidak adalagi disana. Sementara itu rembulan malu-malu menampakkan diri. Senja yang mulai mengembang seiring tubuh Izul yang mulai lelah meregang. Mata yang mulai sayup sering kumandang maghrib yang terdengar sayup-sayup. Lalu kemudian senja itu mengantar Izul kepada Dzat yang dia rindukan, Dzat yang menghadiahkan pertemuan dengan seorang gadis yang mendekatkan dirinya pada Dzat yang telah menciptakannya. Allah.
Sosok itu terbang dengan wajah sumringah. Kenikmatan cinta terus mengalir deras hingga nafas tak mampu menjegalnya. Ketika tidak seorangpun mampu menerima cintanya, maka Dia menemuinya dengan cinta serta mengajaknya menuju keharibaan cinta yang sesungguhnya.
“Bruuk” Tubuh itu beradu dengan lantai, sehelai kertas yang telah menjawab kemubhaman atas penantiannya pada Nindya turut melambung kelangit-langit seolah turut mengantarkan kepergiannya. Sehelai kertas tertuliskan “Annisa Nindya Putri dengan Yanuar Iman Anshari”.
Sehelai kertas jatuh mentup wajah Izul. Wajah yang menyisakan senyum, seiring takdir yang telah diputuskan-Nya. Bidadari menyambutnya dengan gembira, “Selamat wahai Hamba Allah yang didalam hatimu ada cinta yang mendalam untuk-Nya. Sesuai janji Allah, ketika tidak ada lagi naungan selain naungan-Nya di yaumil mahsyar nanti, maka dengan cintamu yang suci menjadikan naungan atasmu sebagai kado terindah dari-Nya untukmu.” Amiin.

Minggu, 01 April 2012

Simfoni Biru di Kotak Biru


19 Januari 2012
Opening EnglishVaganza Part II
Malam ini, banyak yang ingin aku tulis tentang Kita, Manusia Biru. Tapi lagi-lagi jamari ini kaku ketika harus menulis apa yang ingin aku tulis. Hingga aku putuskan menulis apa yang bisa aku tulis di paragraph pertama tanpa memilih diksi yang tepat ataupun kalimat yang menyerupai pujangga yang tersohor.
Bismillahirrohmanirrahiim,
Aku tau ini bukanlah akhir dari kisah "Biru". Tapi akan mungkin menjadi akhir bagiku bila jam pasir tinggal selambai tangan sementara aku tidak bisa membersamai "Kakak" disisa KotakBiru.

#Ayoo, sugesti lagi "Aku Sehat!!!, Aku Kuat!, Aku ingin melihat wajah-wajah tangguh!"

Lahaulawalaquwwataillabillahil'aliyyil'adziim.
Malam ini, baru aku mengerti mengapa kalian menangis di malam yang sama seperti malam ini. Sementara waktu itu aku hanya menatap heran, “Ko’ pada nangis si?,” Demikianlah batinku di satu tahun lalu di malam yang sama. Tapi kini?, Pertanyaan yang aku ajukan tempo dulu terjawab dengan lelehan hangat airmata. Cengeng?, Bukan.
EDSA, Aku terjebak…
Kembali satu tahun lalu, P2K. Aku sangat ingat, aku duduk paling depan dengan penuh antusias menyimak kegagahan serta kebiruan EDSA, tayangan demi tayangan memabukkanku hingga berambisi untuk bergabung dengan EDSA. Study Club, Fikirku.
Ketika stiker berwarna coklat yang kemudian kini tertambat di ujung atas almariku dibagikan, sekonyong-konyong aku tengadahkan tangan persis seperti pengemis sekarat yang melihat sekatung berlian. Seusai tabur “berlian” itu usai, sagera aku mengirim sms, ke orang yang sudah aku kenal untuk yang pertamakalinya aku kenal di UAD secara SKSD, sebagai bukti aku sangat tertarik dengan “Study Club” itu.
“Di tunggu ya di EDSA office, Blue Box” Balasan sms dari kontak yang aku beri nama Mas Faisal Abidin UAD yang tidak aku sangka bahwa yang mendatangi kamarku malam itu adalah salah satu Manusia Biru yang kini nampak gemilang di mataku.
Teh Anisa Alfeirsia, nama kedua yang aku kenal dengan SKSD. Dari Teh Annisa-lah aku mengerti apa sebenarnya EDSA itu, “EDSA itu sama kaya OSIS kalau di SMA mah” kiranya seperti itulah kalimat yang dia sodorkan tentang pengertian EDSA. “Ohhh, bukan studyclub yah?, salah perkiraan dong brarti.” gumamku kala itu yang sengaja tidak aku kalimatkan.
Mengetahui EDSA adalah OSIS, tidak membuatku luntur ataupun patah arang untuk tidak bergabung di EDSA. Toh aku udah terlanjur jatuh cinta pada kesan pertama dengan EDSA, adakah aku yang tertipu atau terjebak karena ternyata EDSA bukan studyclub, tetap saja aku harus maju. “EDSA melalihkan P2K-ku”.
A’ inu, orang ketiga yang aku kenal SKSD. Berawal dari dia membaca puisi ketika P2K yang lalu kemudian aku sok deket, “Mas besok-besok baca puisi bareng yuks”. Tapi ga kesampaian juga sampe sekarang, hehehe. Dari dia juga aku tau banyak tentang celuk-beluk EDSA.
We are here, UAD
Hany, orang yang aku anggap keluarga dekat (Iyakan Han?). Dengannya aku mendaftarkan diri di EDSA dan berH2C (Harap-harap Cemas) Bersama selama seleksi EDSA yang lumayan ketat, pesertanya saat itu mencapai angka seratus, semantara yang akan di terima hanya 15 orang. Hampir-hampir aku, dan Hany pesimis diabuatnya, tapi tekad sudah bulat. “Kita harus Lolos EDSA”.
EnglishVaganza Part I
Selain Hany, ada juga Khusnul (Teman kelas Besar dulu yah?, sekarang?) yang juga ternyata ikut mendaftar. Erlin yang juga teman seP2K turut mendaftar di EDSA. Alin, yang tadinya cuman kenal di FreMo (Friendship and Motivation) ternyata ikut mendaftar. Dina juga yang waktu seleksi DeCo bareng, eh malah ikutan daftar juga. Setelah melalui tahap pengakuan, ternyata Kita tertipu, terjebak.
Kembali di hari-hari biru kita,
Aku bertemu dengan sosok yang Lucu, Besar, Berkacamata miring di Divisi TI. Patria Handung Jaya, seorang koor yang bisa dikatakan sangat baik, namun sayang dia ga mau membagi lemaknya untuk kami di divisi yang sampai sekarang badan kami makin kerempeng dan kecil. Entah memang gizi yang kami makan terserap oleh koor kami, atau mungkin system pencernaan kami yang terhubung ke lambungnya secara kasapmata.
TI, Talents and Interests. Kekeluargaan itu bermula. “Aku ngrasa aman kalau ada Mas Handung” Tutur Suharini membuka kediamannya yang membuat kita tertawa lepas tanpa beban. Dari sinilah aku kultuskan EDSA –dalam diriku sendiri- bukan organisasi, melainkan keluarga. Kekeluargaan itu bertambah kental dengan sebutan Bunda, Panggilanku kepada Mb’ Nela Kusumaningrum. Di tambah, Mas Handung (Kasur) , tempat bersandarku dan A’ Inu kalau manja lagi kambuh, atau di saat hendak baringan. Dan dia dengan lapang menerima kepala ini tergolek di Pahanya yang melebihi besar kedua pahaku. Berbeda dengan Erlin, atau si keriting -tepatnya si gadis alay yang ngaku dirinya paling cantik- Panggilan “Deddy” untuk Mas Handung, dan “Mummy” Untuk Bunda yang semakin menambah kekeluargaan tanpa harus ada hubungan sedarah. TI, EDSA.
Indahnya Berbagi
Dan akhirnya aku terjebak dalam jebakan terindah, lebih dari sekedar studyclab yang aku dapati di Kotak Biru, melainkan pelajaran kehidupan. Pelajaran kehidupan yang amat sangat berharga. Hal ini sangat aku rasakan di ujung desember kemarin di Rumah Mb’ Risvita Rahayu, pelajaran kehidupan itu terjejer satu-satu, entah berapa sks jika semua cerita itu di mata kuliahkan. Dimana airmata bukan lagi aib, melainkan kekuatan yang amat sangat besar dan berharga. Dalam, dalam, dan semakin dalam kisah-kisah kehidupan yang aku dapati malam itu. dan aku merasa betapa sangat beruntungnya malam ini bersanding dibawah teduh malam yang bertemaramkan rembulan, belum lagi hening yang seolah menuansa diri tenggelam dalam hangat nan kenikmatan yang semakin membuncah.
Semalam sebelum 19 Januari 2012
Semakin takut ketika mendekati tanggal 19 Januari 2012, bukan karena komposisi yang tersisa ataupun formasi yang tidak tepat, melainkan takut jika rindu ini esok hari tidak mampu aku kendalikan, dan aku kehilangan guru agung yang mengajarkan berbagai pelajaran kehidupan. Untuk sekedar meyakinkan “bisa” saja, aku masih sangat susah kala itu.
19 Junuari 2012 pun tuda
Dan malam ini terjadi, 19 Januari 2012, ketika kami di jejer di hadapan Kakak-Kakak yang baik. “Kalian takkan tergantikan Kakak-Kakaku, Semoga Allah memberikan keberkahan untuk kita semua. Aku percaya Kakak adalah orang yang baik, tubuh ini siap menjadi saksi kebaikan serta ketangguhan Kakak-Kakak sekalian. Maaf kalau ada kata yang sempat melukai hati Kalian”
Hari ini, 20 Januari 2012,
Hari dimana pertamakalinya Rapat tanpa ada Kakak Sekalian. Sangat jauh berbeda, keakraban itu masih kami bangun sedikit demi sedikit sebagaimana Kakak-Kakak ajarkan pada kami. Kami harus belajar, belajar, dan belajar. Kami takkan menyiakan kepercayaan yang Kakak berikan untuk kita bersepuluh. Kami tidak akan membiarkan pelajaran yang telah Kakak bagi kami taruh begitu saja, melainkan akan kami bagi tentang bagaimana Belajar Pelajaran Kehidupan.
Satu April duaribuduabelas
            Benar apa yang Kakak katakan, “Kita tidak meninggalkan kalian, boleh jadi secara organisasi kita sudah lepas. Tapi tidak untuk hubungan kekeluargaan kita, kelian tidak perlu takut untuk tidak bisa berbuat sesuatu yang hebat tanpa Kita, pasti akan ada adik-adik baru kita yang hebat. Yakinlah, Kalian akan bisa menemukan hal yang hebat itu, serta kebahagian bersama dengan cara kalian dan adik-adik baru kita.”
            Haru mengingat kalimat itu, tapi itu sungguh terjadi. Kalian memang tidak pernah meninggalkan kami dengan adik-adik baru kita. Bahkan aku hampir lupa dengan apa yang aku takutkan setelah di tinggal Kalian secara organisator.
Upgrading, Senam yuukk!!!
            Mas Aflah, yang selalu akrab menemui adik-adik baru kita. Yah sekedar untuk bercanda atau bahkan “menjaili”, tapi hal itu berguna. Semakin akrab. Tidak kalah juga Mas Handung yang suka ngobrol berdua dengan Si Kriting Erlin, yang sering nengok atau sekedar mencari teman untuk makan.
            Mb’ Mel juga yang terkadang numpang ngeCes HaPe tuanya, setua usianya (Piss Mb Mel, yang anggun n feminism yah. Hehehehe.). Entah memang beneran ngeCes atau sekedar alasan untuk pulang ke kotak biru, karena dia kangen dengan kita (Kita juga Ko Mb’. Hehehe). Teh Anisa juga, walau sekedar download.
Green Hall, Birunya Kita.
            Nah ini, Mas Faisal. Master of Gondeser. Akhir-akhir ini sering galau (Sabar ya Mas, jodoh ga kemana ko’. Hehehehehhe *ga nyambung), Semoga lulus sesuai target ya Mas. Dan juga kakak-kakak lain yang tidak di sebutkan disini, bukan maksud diskriminasi, tapi karena tidak muat, Mas Handung sudah “Makan Tempat” soalanya. Heheheh.
Sore tadi,
Lelah, letih, kesal menyatu serta mengakar setiap sendi. Namun, tawa serta canda masih tetap renyah untuk di santap saat senja menyuguhkan rasa lelah bagi tubuh. Hal ini lagi-lagi membuatku lupa terhadap ketakutanku seusai “Domisioner”. Tawa, Canda masih sanggup meramaikan kotak biru, bukan hanya itu saja sebenarnya. Rasa kesal juga sanggup mengajarkan kami untuk tumbuh dewasa, seperti apa yang Kakak ajarkan kepada Kami.
Iwan, salah seorang yang mendapat slogan “disconnecting people” yang sore tadi berhasil membuat perut sakit karena ulah kepolosannya. “Sitdown Comedy”. Yah anak yang satu ini terkadang menjadi bahan “candaan” yang asyik, di karenakan kepolosannya.
Usai Sepeda Santai, Reborn your spirit by ngepit.
Sore ini, Iwan cukup filosofis, entah itu terilhami dari hasil debate swingteam-nya melawan Iwak Peyek?,  Atau karena ada Iqbal? (mungkin), atau karena Ms. Nuno?, atau jangan-jangan terilhami oleh orang yang berada di sampingnya? (Khusnul), atau mungkin dia berhasil menyerap ilmu dari Dina yang mengakibatkan sore ini dia (Dina) Nampak lesu?, atau jangan-jangan karena ada Mb’ Mel?. Kayaknya karena Iwak Peyek deh. Hahahah (Ngawur). Atau mungkin karena malam sebelumnya Iqbal dengan menggebu-gebu menyemangati dengan filosofi “Batu, dan Air”-nya, Atau karena terilhami Putri dengan “Kerja Ikhlas”-nya. Yah, apapun filosofinya, kita tetap Keluarga. Hahaha.
“Saya ambil Hikmahnya, biar kesel, cape, lelah” Ucap Iwan dengan khas polosnya yang kemudian disambut dengan tawa manusia-manusia biru tanda sepakat atas kalimat Iwan barusan. Benar memang, semua ada hikmahnya. Hikmah dari “Domisioner” adalah Kita semakin menjadi keluarga yang tidak perlu menjadi pribadi-pribadi lain, karena dengan adanya Kita seperti ini komposisi Rumah Kita semakin kokoh.
Lelah, namun senyum itu pasti.
            Kabar gembiranya, ternyata Suharini semakin jago ngomong, padahal sebelumnya dia adalah orang terpendiam di EDSA, namun rupanya kebersamaan yang Kita lalui membuatnya lebih jago angkat suara di banding sekedar diam. Tidak hanya Suharini sih, ternyata tadi sore aku berhasil ngobol singkat dengan Yuli “The Next Suharini” (Kayaknya). Aji juga akhirnya dia berhasil mencintai lawan jenis (kalau yang ini cuman goyon. Hahahha.) Sayang dia lagi sakit hari ini (Lekas sembuh ya Ji, jangan nyerah untuk menyebar proposal dan mencari anak Rohis. Hahahaha.), dengan Ibu Penalaran juga yang sedang sakit, Rini Setiani (Anak-anak pada kangen tuh, lekas sembuh yah).

Usai Seminar Nasional-EDSA!!!!
            Yah banyak sih warna-warna baru di kotak biru, namun semua sepakat untuk menyerukan warna biru, memang masing-masing pribadi mempunyai warna yang berbeda. Biru bukan sekedar warna, tapi ini merupakan ungkapan keindahan, keindahan yang tercipta dari komponen, serta warna yang berbeda.
Aku Sayang Kalian
            Au Neko, kata Alin yang juga ternanya berhasil melewati masa galaunya. Sebenarnya ini juga “Hikmah” ENGLISHVAGANZA Part II she, telah kita ketahui bersama saat Futsal kemarin. Bisa kita anggap bahwa ini merupakan perkembangan positip dari pertambahan usianya. Iya kan Lin? (Hahah). Kayaknya aku mesti banyak belajar dari Alin, dan Pa Ustat Aji neh, walau bagaimanapun aku juga harus bisa melewati masa galau ini dengan cepat dan tepat. Kalau kata ibu ketua mah “Ketika orang rain hanya belajar lima, kita harus berani belajar sepuluh”, aku tambahin deh “belajar unlimited” juga. (Apaan…)
Gethering di Rumah Mb' Vita-Inilah kita-
            Kembali ke Au Neko, kata apa sih?, aku juga ga tau?, tapi yang jelas kata itu memberi pengertian bahwa Aku Sayang Kalian. Di saat aku butuh kata yang orang sebut itu cinta, di sinilah aku mengerti, bukan cinta yang orang lain maksud yang aku butuhkan, melainkan cinta yang kemudian di terjemahkan dengan kata Au Neko yang aku butuhkan saat ini.











Kita, Manusia Biru.

Selasa, 20 Maret 2012

Sekejap, Buahkan Rindu


            Tajam tatap mentari pagi ini, menyengat siapa dan apa saja yang dapat dijangkaunya. Angin kali ini kalah peran dengan sengatan mentari yang teramat ganas, atau mungkin jubalan siswa-siswi yang seliwarseliwir kian kemari menyumbang hasil pembakaran kalori dalam tubuhnya dan membuat atmosfir sekolah ini memanas.
            Lelaki itu keluar dari perpustaakan terburu-buru, ingin segera temui seorang siswi yang sempat sebal terhadapnya saat masa orientasi dulu. Zakiya, Qiqi adalah sapaan akrab gadis kecil itu. Gadis kecil berhati lunak, gadis kecil yang selalu setia mendengarkan kisah-kisah Pelangi dalam hidup Izul. Entah sudah berapa jilid jika kisah Pelangi itu di bukukan, atau satu halaman kertaspun tak sampai karena ketika saat menuliskan kisah Pelangi tersebut mendadak kaku jemarinya. Namun roman ini amatlah sempurna Dia tuliskan bagi setiap hamba-Nya.
            “Teteh takut kamu di jauhi teman-teman de’, lantaran Teteh hanya sepenuhnya menemuimu saja. Asal tau saja, Teteh ingin berbincang banyak denganmu de’. Tapi hal tadi menjadi alasan mengapa kemarin saat Teteh ke Pesantren tidak secara akrab berbincang denganmu De’, percayalah Teteh sayang sama Ade’. Jangan siksa Teteh ataupun Ade lantaran hal ini yah.” Izul membuka pembicaraan yang langsung di sambut airmata, gadis itu menangis.
            Keduamatanya menatap penuh sahdu gadis dihadapannya, tangis itupun sedikit mereda. “Iya Ka’, Qiqi percaya ama Teteh.” paparnya sambil terisak. Pembicaran pun kembali bertemakan Pelangi, dan menjadi bahan obrolan yang renyah antara keduanya, Izul dengan Gadis kecil itu.
            Dua tahun berlalu begitu saja tanpa tatapmuka, kalau pun ada petemuan itu hanya melalui media sosial, itu pun tidak berlangsung lama. Berbeda dengan hari ini, keduanya bertemu dan kembali menceritakan kisah tentang Pelangi. Pelangi bagi Izul.
            Kenangan itu kembali bersimfoni mengiringi cerita-cerita tentang Pelangi kepada gadis yang kini duduk disampingnya. Matanya kini pekat menatap Ruang Kelas di samping kanan Perpustakaan dari sudut pandang Izul yang membelakangi arah barat. Cerita Pelangi di limatahun lalu pun bervisual dimatanya, detail, tak satupun terlewatkan dan nampak seperti nyata.
            Kalimat-kalimat yang Izul sodorkan pada adiknya nampak tak ia sadari, bagaimana tidak fikirannya kini ia gunakan untuk memvisualisasikan kenangan-kenangan itu. Sampai pada kalimat yang membuatnya kembali pada kesadaran, “Kakak tuh sama Teteh, bukan dengan yang lain,” Izul pun mengamiinkan kalimat tadi dalam hati. Pasalnya Pelangilah sosok yang mewarnai hatinya sampai saat ini, biarpun tak sering perjumpaannya dengan Pelangi, atau bahkan tidak pernah dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini. Tapi hal itu tidak menyudutkan perasaan yang nyatany semakin subur untuknya, Pelangi.
            Musholah, obrolan pun berpindah tempat. Ketika mentari jauh lebih terik dibanding sebelumnya, Seusai shalat Dzuhur, keduanya duduk di serambi musholah. “Kakak dulu kalau istirahat ke-2 Fullday biasanya disini, dan menunggu Tetehmu lewat,” diliriknya lagi gadis kecil yang sudah menjarah HP jadulnya itu untuk bersms ria dengan sang Teteh, padahal gadis itu sudah tau bahwa kebiasaan Izul adalah menunggu Tetehnya lewat saat waktu pulang sekolah, danatau menunggu ketika masuk sekokah “biasanya Teteh lewat situ”, menunjuk lapangan depan Pendopo, “atau biasanya lewat depan sini” menunjuk lahan kosong depan Musholah. “Aneh yah”, timpalnya lagi sambil senyum-senyum kecil. Indah.
            Senyum sang gadis mendengar celotehan Lelaki di sampingnya yang mulai senyum-senyum sendiri. Aneh. Karena tepatnya bukan nunggu untuk sekedar bertemu atau minimalnya menyapa, tapi sekedar memastikan tetehnya pulang atau belum. Sesekali memang menyapa, atau sekedar jalan pulang bareng, itupun amat sangat jarang.
            “Itu Teteh De’”, “Kakak pulang aja yah, ga berani nih. Wahh ko jadi inget dulu, sering kebetulan make warna pakean yang sama, atau persis.” tutur Izul yang matanya tertuju pada Gadis yang memakai Kerudung coklat cerah, dan pakaian yang di dominasi coklat. Persis dengan pakaian yang dia kenakan. Kebahagiaan itu sedikit terbangun hanya dengan “Kebetulan memakai warna sama.”. Salah tingkah.
            “Kakak ga boleh gitu tuh, masa pulang?” sergah Qiqi yang mulai senyum-senyum melihat kedatangan Tetehnya, dan disusul senyum Izul.
            “Kak, Teteh ke Teh Evi dulu. Ini sms dari Teteh.” sambil menyodorkan HP, “Kakak pulang aja deh kalo gitu.” sedikit kecewa, “Ga boleh Kak,” tahan Qiqi, “Ayook kedepan Al Mun,”, “Ayyok Kak” Ajaknya lagi. “Oke-oke, lewat AULA aja yah, biar cepet,” tawar Izul. Rupanya ia sengaja untuk lewat AULA, hari ini tak ingin ia lewatkan begitu saja tanpa sempat menengok kembali dirinya di masa lalu dengan sosok Pelangi. Tangga radio, Perpustakaan, X-1, Bibir Pintu FD, Pendopo, Kelas Bahasa, dan AULA.
            Pertemuan singkat yang masih bisu, senyap, dalam ruang yang tak begitu lebar untuk manampung lebih kurang sepuluh orang. Kalimat seolah mati begitu saja, selain kalimat-kalimat sederhana sebagai pengisi kekosongan.
            Kerinduan mulai terkikis seiring durasi pertemuan tersebut, dan berbanding terbalik dengan rasa cinta di hati yang kini makin meninggi. Pelangi itu nampak begitu ramah lagi menentramkan diri,
Saat durasi jam tak benar menunjukkan waktu. Amat sangat singkat pertemuan setelah 2 tahun silam, ada lafazh yang ingin terurai sebagai pelebur "kemubhaman" tapi lagi-lagi Pelangi hanya sekilas menyibak mata yang merindui hadirnya.
Setelah itu?, perpisahan untuk kesekian kali. Kerinduan sudah barang tentu membuncah raga, begitu pula dengan cinta yang kini semakin menguat di hati. Tentu cinta itu menyandra hatinya, betapa tidak terhingga kenikmatan pertemuan itu biar barang sekejap. Belum tentu esok bisa bertemu, atau kemungkinan lain yang menghalangi pertemuan di kemudian hari sekedar mengobati kerinduan.
Tidak hanya satu atau dua malam penuh syahdu ketika Pelangi hadir, gelisah menanti kegadatangannya. Rindu yang kian kuat menagih diri, sosok yang akan selalu di ingantnya dalam labirin yang dia ciptakan sebagai tempat menyimpan segala pelajaran yang dia peroleh melalui Pelangi.
“Semoga esok Engkau meridhaiku untuk bertemu dengannya lagi, ada suatu hal yang hendak aku sampaikan. Semoga Engkau jaga hati ini pada jalan yang Engkau ridhai. Dan semoga dengan cinta ini aku bisa menjadikan utuh atas penghambaanku.”