Rabu, 16 November 2011

Sajak yang tak berpaut


Untuk MU
Untuk mu

Biarlah pelangi tetap hadir ketika mata ini terpejam, mengubah kesayuan kedalam kebiruan yang terus saja aku harap menentramkan, menenangkan. Bersamaan dengan jiwa teduh yang aku rindukan.

Kurindui sebuah nama.
Nama yang menggaung di labirin biru, nama yang lekat di kota singgahku, singgahmu, dalam sejuk biru merdu meranum keperakan. Sebuah nama yang selalu mendayu LafazhMU, nama yang sempat Engau beri kesanggupan mencairkan kebekuan diri, hati ini.

Tentang sesuatu yang belum sepenuhnya aku fahami atas Syair yang Engkau siratkan dalam sajak-sajak hidupku, sebuah bait yang selalu menggaung dalam serambi seorang diri ciptaan-MU.

Namun tetap saja aku yang ini, yang berharap maqom kemafhuman atas sajak hidupku sendiri. Sesungguhnya Hidayah adalah milikMU, ku mohonkan agar senantia Hidayahkan diri dengan Cinta-MU yang Hakiki.

Masih bercerita tentang Pelangi,
yang terus membiru hati dan jiwa serta diri. Begitupun gadis berjiwa teguh yang terus mengalirkan ketenduhan atas lafazh-lafazh yang terlisan tanpa kata. Semoga Sampai tergaung sahdu menuju hakikat kemuhabbaa.-MU. ALLAH,

Pelangi,
kehadirannya agak mengusik langkahku diawal masa, selaksa fatamorgana anggapku. namun tak berarti sejuk kebiruannya akan menenggelamkanku dalam kalut yang meradang. Justru kebiruannya selalu menenangkan diri. larutkan aku dalam rindu dan cinta. Semoga kisah birumu selalu terhadiahkan kebaikan dari Sang Maha Indah, ALLAH. Barokallahu lii, ma'ak..

Apakah aku telah menjadi yang lain?
saat dua dimensi bersapa, saat dua roman saling berjabat.
Aku yang termilikiMU. kuatkan hati ini dalam nada yang melahirkan simfoni cintaMU yang mengalun teriringi RidhaMU.

Keteduhan diwaktu itulah yang aku rindu, meski tiada kata yang bisa terlisankan. namun senyum yang terurai sanggup menentramkan jiwa yang terlumat kesunyian yang tersekian lamanya. Semoga di episode masa berikutnya TakdirMU menjadikan diri Ridha, dalam cinta yang peasti indah pada akhirnya. Selama Engkau yang Membimbing hati ini, hatinya.

Gemericik waktu mengalir beriringan dengan sulur-sulur kisah yang terus meramaikan kesunyian. mengalun dalam dendang diri pada makna hakiki.
inilah aku, bersama hati yang mengalir rindu. berharap tiada lagi kerinduan yang tersesat, terkecuali pada Penghambaan terhadap-NYA

Aku diantara berjuta wajah yang mengharapmu, merindumu bahkan mencintaimu. Namun takkan aku turuti semua yang menjadi inginku, karena Allah jauh lebih memahami kebutuhanku. kebutuhan hamba-hambaNYA.

Cukup inilah fitrahku sebagai manusia. Aku yakin Roman yang DIA tulis amat indah. Sebias wajahmu hadir dalam dimensi lelapku, telah lebih dari kesekian kalinya.
aku tak begitu faham dengan ini, namun aku berharap Allah selalu membimbing hati ini, hatimu. agar tetap pada RidhaNYA.

Ini aku kamu dan Dia. dan adanya kita.
semua dalam cinta, dalam rindu, dalam sahdu.
dalam dambaMU.

Teduh dibawah rindang cahaya, membentuk keterahasiaan diri dibalik cahaya yang mulai meredup. cukup indah cahaya yang nampak disenja itu, membuatku betah termanjakan. tak ingin aku undur diri.
Teduh dibawah rindang cahaya, membentuk keterahasiaan diri dibalik cahaya yang mulai meredup. cukup indah cahaya yang nampak disenja itu, membuatku betah termanjakan. tak ingin aku undur diri.

Aku takkan sanggup menatap air hangat yang mengalir dari ketulusanmu dalam keadaan tanpa hijab. Karenanya aku tak sanggup menahan nada yang terlalu indah untuk ku dengar dari bibir mungilmu.

Cukup Allah yang akan mengindahkan segala sesuatunya berdasarkan kadar takdirNYA.

Dalam dimensi itu aku terus termubhamkan keSIAPAanmu, serta keSIAPAanku pula. maka cukup Allah saja yang sok tau, karena Ialah DZAT yang maha TAU. maka biarlah kisahmu, kisahku ditemukan dalam equilibium hanya olehNYA.

Beberapa menit saja kegelapan serta kesunyian melanda, segala arah lenyap berhamblur sirna. haruskah aku kambing hitamkan waktu? atau diriku sendiri?
aku mohon bimbinganMU ya Robb, Atas hati, cinta dan diri.
Kiranya demikianlah hati ini terhadapmu, lalu biarlah rahasia tetap ada agar keyakinan makin mengakar.

semoga Dzat pencipta diri selalu mejaga hati-hati ini.

Hubbku masih berkelana dihatinya, khaufku-pun enggan relakan ketiadaannya, begitupun roja'ku masih terpaut akan cintanya.
Ya Robb, jadikan hubbku kepadanya atasMU, tangguhkan roja'ku kepadanya atasMU serta khaufkan aku atasMU pula.

Semenit saja hal itu terjadi padaku, tapi sanggup menghadirkan ketakutan yang luar biasa sampai-sampai bisa merelakan segalanya asalkan tidak terjadi hal itu di menit kemudian. Semoga saja ini wasilah pengampunan penghambaan. kuatkan ragaku ya Robb, Ragaku serta Iman Taqwaku.
Ya Allah, ku mohon ,
Apa yang telah Kau takdirkan aku harap dia adalah yang terbaik buatku kerana Engkau tahu segala isi hatiku.

Pelihara daku dari kemurkaanMu.
Ya Tuhanku, yang Maha Pemurah,
Beri kekuatan jua harapan , Membina diri yang lesu tak bermaya,
Semaikan setulus kasih di jiwa.

Sejuk terhirup, seperti udara saat embun masih begitu riang berdendang. mengingatmu adalah sebagian kesejukan hingga terangkai bait-bait ketentraman hati yang syahdu. peraduanku, peraduanmu. iyalah ALLAH.
Cukupkan hati diri-diri ini dengan Syahdunya kautsar keridhaanMU ya Robb.

Masih seperti cerita di kemarin pagi, saat hunian penuh kesahduan meski sedikit ketakacuhan sepasang mata, namun tak berlaku kepadaMU.
Engkau maha Melihat segala sesuatu yang meromankan hidupku.
sertakan aku dalam penjagaanMU ya rob, atas sebuah hati yang mendamba sesesok wajah berjiwa teduh.
Terkadang hidup begitu sesak atas jejalan fatamorgana yang tak sanggup aku maknai sendiri. Maka tak jarang kaki-kaki melangkah murung.
Hanya aku masih AKU-MU, maka istiqamahkan hati dalam keridhaanMU.

Seberapa tangguh aku menyimpan perahasiaanmu, sampai ada lisan yang sanggup menjadi benteng aku, kamu, dia dan ALLAH.
Semoga Ukhuwah selalu kita junjung tinggi agar tergapailah cintaNYA yang hakiki.

Aku beri kesempatan agar engkau mengenali diriku atas dirimu sendiri. begitu pula pun aku. karena aku tak mau lagi kehilangan makna kesejatian atas anugrah penciptaan.
Semoga kita mampu berlapang dada serta bersyukur atas segala putusanNYA.
semoga ALLAH menjagamu, serta menyayangimu selalu.

Aku takut berlebih dalam mengungkap segala yang menurutku pantas untuk menggambarkan kesejukan yang telah aku terima, aku takut kedustaan menjerat lidahku sendiri. Semoga Allah menjaga lisan ini.

Aku harus memutar melodi yang seharusnya aku mainkan, agar tiada lagi kesunyian dalam diri. Agar tiada lagi kelabu dalam masa yang makin bergulir tanpa bersua.
Aku turut larut dalam syahdu keanggunanmu, namun tak sedikitpun aku faham atas sebuah nama, ialah namamu.
Semoga hanya dengan namaNYA akan melahirkan kata KITA untuk sebuah yang haq. dalam cinta syahduNYA.


Terkadang jalan ini teramat sulit ditempuh, kesabaranpun tidak sebatas cakupan embun melaikan lebih dari samudra. tapi enggan saja terjal lebih pandai mensiasati untuk menghalang jalan.
Kebiruan ini masih cukup menyejukkan raga serta sel-selku yang mulai rentan dalam pergulatan waktu. Namun semoga Engkau meridhai jalanku.


Ketika langit hati telah merona lagi setelah gugur dalam kesunyian serta kesemuan, maka hanya aku tujukan perkara hati hanya padaMU. seraya aku mohon sampaikan hati ini pada hati yang mengagungkan cintaMU.


Aku azzamkan diri saat matahari senja serta embun kesejukan yang tawarkan kesahduan dalam sebuah keihlasan insani. Seraya diriMU satu tanpa sekutu, maka rela diri dalam rebah penghambaan kepadaMU.


Apakah ini benar-benar dari hati?
tak mungkin sanggup untuk kesekian kalinya terjelembab dalam kelebaman, sesosok yang aku anggap pelangi.
Teguhkan hati ini dalam Keistiqamahan kepadaMU.


Semua terasa gelap dimata saat hati enyah dari kesadaran diri. takkan lagi cahaya, takkan lagi kehidupan atas ibadah dan penghambaan. maka Ya Allah aku memonhon, Hidupkanlah hati ini oleh dan hanya karenaMU.


Dunia baru memperkenalkan kepada kejadian-kejadian baru yang tak terelakkan, yang terkadang dituntut untuk cermat diri. tapi akupun takkan luput dari masa lalu yang telah mengantarkanku pada hari ini.


Dikala cahaya mulai meredup lalu sirna, kengerian takkan terelakkan sementara hati menghitam pekat. Lalu siapa yang akan menunjuki jalan terang selain Egkau ya Robb?
tiada lain HANYA Kehendak serta Kuasamu.


Seperti masa yang terus bergerak maju. tak perlu lama-lama sesali penyesalan yang dibuat sendiri, niatkan untuk yang Maha Bijaksana.
Tiada lagi embun disenja hari seperti hari-hari sebelumnya...
ya Robb kuatkanlah aku dalam jalanMU.
lahaulawalaquwwataillabillahil'aliyyil 'adhim,,,


Teruslah bercerita tentang hidupmu, jangan sampai terhenti sebelum masa merampas usiamu.
teruslah berpacu untuk asa dan citamu sebelum nafas ini terhenti.
Allah akan bersama hambanya yang selalu mengingatNYA.
Aku ingin mendengar suara yang hanya aku sendiri yang sanggup mendengarnya, dimana kedamaian tercipta akannya.


Sekedar ini yang aku bisa, namun aku akan tetap berusaha.
meraih apa yang sepatutnya bisa aku raih.

denganMU, hanya denganMU. hidup matiku.
karenaMU pula aku mengerti ayat-ayat hikmah MU.
Bismillah,, bersiap untuk menambah aset masa depan (dunia dan akhirat) dengan ilmu.
semoga engkau memudahkan aku ya Rob dalam pencapaian keridhaan serta kemulyaan atas sebuah penghambaan.


Sepertinya aku takkan lagi melupakan lafazh-lafazh cintamu, wahai pelangi terindah dalam embun senjaku.

Ketika senja baru saja mengadu padaNYA, aku rasakan sunyi itu lagi dan lagi. semoga ini menjadi washilah kerinduanku padaMU, ALLAH.
aku titipkan rasaku padanya kepadaMU. karena hanya karenaMU semua terasa INDAH.

HENDAKKAH PULANG PADAMU, ALLAH


Muza Elfarabi (Muhammad Zuhri Anshari)
Yogyakarya 10 oktober 2011; 19:53

“Dari mana asalmu agar bisa menjawab “dunia adalah tempat singgah”?”, tutur seorang guru. “Kamu” sang guru menunjuk seorang siswi “Dari akhirat”. Sang Guru hanya menggoyangkan kepala tanda kurang sepakat, dan menunjuk siswi yang disamping siswi yang lain. “Dari tanah liat” jawab si siswi dengan sedikit berkerut kening. “Ya itu memang benar, kita dari tanah liat, kemudian kembali ketanah lagi, lalu apakah selesai demikian?. Tidak kan?, jadi dari mana kita?”, “Coba Zulfikar”. “Bingung pak, tapi hakekatnya sih dari Allah” Jawab zulfikar sambil menggaruk kepala yang tidak gatal. “Jawaban yang tadi benar, tapi agak sulit untuk menjelaskan pertanyaan saya” Kata sang guru.
“Ada yang bisa jawab?”  Tanya seorang guru ditengah kebingungan para siswa dan siswi. “Syurga pak” celetuk seorang siswa di tengah rundung bingung melanda seisi kelas, siswa yang agak slengeantapi berprinsip, “Jawabanmu benar Za” ucapan sang guru membenarkan jawaban zakariya .

“Mari kita bahas, Nabi Adam A.S. berasal dari Syurga yang diciptakan oleh Allah dari saripati tanah. Maka kita pun sebenarnya dari Syurga. Dunia ini adalah tempat singgah kita, Apakah  kita semua padakepengen pulang ke tempat asal kita?. Jawabannya adalah tentu. Lalu apakah kita bisa menemukan jalan kembali?, apakah kita tau bagaimana jalan pulang?, apakah kita sudah punya oleh-oleh sertaongkos pulang?, apakah kita tau dengan apa dan dengan siapa kita pulang?” dan apakah kita mampu dan siap bertemu dengan  pencipta diri kita?”

Aku rindu, aku ingin pulang, aku ingin rebah di rumah asal manusia,  berkumpul bersama keluarga dalam bahagia yang hakik. Tak ada lagi sakit yang menikam jantung, tak ada lagi duka yang menyayat jiwa, tak ada lagi lara yang mencengkram raga. Aku sungguh ingin pulang, pulang dalam pangkuanMu, pulang dalam RidhaMu, pulang dalam jalanMU. Tapi bagaimana jika aku tersesat pulang? tak tau arah kembali, sehingga neraka yang aku temui. Naudzubillah ya rob, jauhkan aku dari kesesatan itu. Sungguh takutku teramat sangat atas hal itu. Tunjukilah aku jalan pulang, jalan menuju hakikat KebehagiaanMU. Dalam sujud penghambaan utuh seorang hamba”
“Zul, ayo pulang” ajak zakariya membangunkan renungan singkat Zulfikar. “Udah selesai ya Za?”, “Belum Zul, tapi khusus untuk lamunanmu ja. Hahaha, belajar malah ngamun, ntar di rumah lanjutin lagi tuh ngamunnya.”

Terinspirasi dari perkuliahan Kuliah Akhlaq
Bapak Abdul Mukhlish, S. Ag., M.Ag.

SATU TAHUN KULIAHKU


Bismillahirrahmanirrahim
Waktu,
Waktu yang Engkau suguhkan begitu cepat sehingga langkahku lebih sering berada di garda akhir. Namun, waktu yang Engkau hadiahkan begitu berhaga dalam masaku, dalam sejarah hidupku yang tanpa aku tau ending diriku sendiri, namun kuroja’kan segala harapan dalam IridahMU, ku Khaufkan segala takutku dalam Iman taqwa terhadapMU, ku hubbkan hati dalam keridhaanMU

SATU TAHUN KULIAHKU

Di semester satu kuliah berjalan agak telat, pasalnya temen-temen yang lain udah masuk selama satu minggu. Eh aku malah asik-asikan terbaring di kamar putih, hiihihi. Jadi telat juga kenalan ama temen2 sekelas (masa kelasnya di pecah lagi coba, padahal aku udah nyaman ama temen yang sekelas pas ospek), untung aja ada yang bisa aku mintain info perkuliahan-Toni (yang aku sebut afgan saat ospek dan sekarang jadi nama bekennya) dan nurul (gadis sipit berkacamata yang mempunyai nama beken sansifiera fatma)- keduanya temen sekelas waktu ospek,

“Makasih yah Ton, trimakasih juga untuk ortumu yah yang udah peduli pas aku di kamar putih itu, dan untuk nurul juga saya ucapin makasih yah udah ngasih info perkuliahan plus ngasih tau kelas baruku, dan nemenin aku ngobrol via sms”.
          
  Lanjut, Nah seuasai libur lebaran kemarin aku bingung pas mau kuliah.

Kenapa?,
Aku cuman tau kelasku kelas F, tapi ga tau siapa aja orang di dalamnya. Hanya berbekal jadwal yang aku dapatkan dari Afgan dengan ruangan yang masih belum aku fahami letaknya. Akhirnya aku berinisiatif menghubungi ketua kelas kelas F, tapi aku juga ga tau nomor serta nama ketua kelasku.
Makin bingung deh, ko’ bisa?
Bayangin aja besoknya sudah harus balik ke jogja tanpa belum tau pasti ruang kelas matakuliah juga. Aku tanya Afgan ama nurul deh via sms “Nur, Ton. Kalian tau ga temen sekelas ospek kita yang sekelas dengan aku di kelas F?” langsung saya kirim ke nomor hape mereka berdua. Tinggal nunggu jawaban deh. Sambil nunggu aku mau minum dulu ah haus.
Glek,,glek,, glek
           
Alhamdulillah, lanjut yok,
           
 Aku dapati sms balasan dari nurul yang buat aku senyum agak lebar.
“Ada, desi klo ga salah. Coba aja km smsin dia ini nomornya 08xxxxxxxxxx”.
“thanks ya nur”.
“sama-sama”.
Beberapa lama kemudian sms afgan menyusul yang membuat kau makin seneng (ternyata temen yang sekelas pas ospek ada beberapa yang sekelas juga ama aku).
“Setauku Agung, hamzah, alfian”.
“Thanks ya Ton, salam buat ortumu”.
“Iya sama-sama, eh oleh-oleh yah hehehe”
”Insya Allah Brother”.

            Setelah aku dapati nomor desi, langsung aja aku sms ke desi. Dan setelah beberapa kali smsan, aku dapati juga nama ketua kelas yang katanya speakingnya aktif (kata desi sih, tapi aku mah belum tau siapa dan kayak apa ketua kelasku yang aku ngerti ketua kelasku cewek, sesuai namanya.).
“Wah keren yah cewek jadi ketua kelas, emh bener-bener emansisapi emansipasi wanita banget kelasku, jangan-jangan di dominasi cewek juga”gumamku.

            Hany. Nama ketua kelasku. Langsung aja aku sms, lebih kurang begini smsku
“Asslm. Apa benar ini dengan Mb’ hany ketua kelas kelas F?, saya Zuhri. Boleh saya minta jadwal asli kelas. Ohya Mb’ kemarin pihak TU ada yang ngasih surat izin dari pihak rumah skit ga?”

            Agak lama aku menerima balasan, jadi aku tinggal nonton tv dengan adik-adikku deh. Beberapa jam kemudian HP 5300 kesayangku berdering. Mb’hany, begitulah nama di sms di inbox saya. Aku buka
            “Maf ya mas, saya bukan Mb’, saya mahasiswa bukan mahasiswi”

Sebelum aku melanjutkan baca sms aku terpelongok sejenak, “dugaanku salah dong klo ketua kelasku wanita. Tapi masa’ laki-laki. Jelas jelas namanya berjenis perempuan HANY, itukan nama jenis perempuan” gumamku seusai melongo. Lalu mataku tertuju lagi pada layar HaPe melanjutkan isi sms yang isinya jadwal kuliah kelas plus mata kuliah (yang sebenernya sdah aku punya dari Toni, tapi untuk mengakrabi aja dengan ketua kelas yang aku sangka seorang perempuan).

            Tinggal kuliah deh, pas kuliah di awal semester satu, aku masih agak canggung dengan suasana baru bahasa kerennya aku sempat terkena cultureshock. Jadi kuliah aku hanya sebatas kuliah-pulang-kuliah-pulang aja. Belum ada teman yang aku sempat akrabin. Yah paling kalo mau main aku biasanya ama Toni, Aldin, terus Alfian, Kelik, terus mainan ama anak-anak kecil yang ada di gang kosanku aja.

Toni beda kelas, main ama Aldin suka ga nyambung sendiri, ama kelik kejauhan. Hems, namun saat-saat cultureshock itu tak begitu lama, akupun mulai akrab dengan Hany dan teman-teman lainnya. Riza, Agung, Imam, Hamzah, Alfian, Ade. Udah segitu karena yang cowok di kelas aku cuman ada mereka, untuk kenal ama cewek aku masih canggung. Belum saatnya kata batinku mah. Paling cewek yang aku kenal dekat saat itu adalah Nurul, Ana, Ririn dan Erlin.. Terus seniornya Teh annisa ama Mb’ Iim

            Pertengahan semester satu mulai terasa ramai dan ga sebeku dulu, pokoknya kuliah makin asyik setelah aku mulai mengenal banyak nama, bukan hanya mengenal sih tapi dekat juga. Apalagi pas aku di terima di EDSA, waauu jadi punya keluarga baru. Dan bertemu ama orang-orang yang menurutku super dalam perkuliahan mereka. Sebut saja Mas Handung, yang menurut ibu Nur Fatimah (Dosen Structure one ku serta Penasehat yang baik) dia (Mas Handung) grammar dan speakingnya bagus. Terus lagi ada Mas Faisal, cerita sedikit tentang Mas Faisal ah. Dia adalah senior pertama yang aku kenal, beliau ini orangnya asyik, pandai menempatkan diri juga, jadi pantas menurutku Klo ibu Nur bilang “Faisal juga bagus dalam writting”. Dan banyak orang-orang super di EDSA yang ga bisa aku sebutin satu per satu, pokoknya mereka semua super.

            Tapi sebelum aku diterima di EDSA, aku pertamakali bergabung dengan DeCo atau Debating Community yang sekarang di pimpin oleh Miss. Nuno. Klo saya katakan EDSA semuanya orang-orang super, maka DeCo terdapat orang-orang yang tangguh. Kenapa?, aku pertamakali seleksi DeCo dengan Mr. Andi yang punya segudang prestasi dalam dunia debat. Belum lagi Mr. Jefri dan Miss, Nuno, semerternya masih dibilang muda tapi sudah termasuk debater. Ada lagi Miss. Dwi yang bulan mei kemarin berangkat ke amerika dengan beasiswa yang beliau peroleh. Tangguh banget kan?.

            Setelah banyak memperoleh teman serta figur-figur super dan tangguh di EDSA dan DeCo yang selalu menginspirasi perkuliahanku, aku juga bergabung dengan keluarga Teater PeBeI. Bisa di bilang aku anggota pasif sih tapi aku masih peduli dengan teater tersebut, banyak tawa serta hibur yang mereka berikan saat ada pertemuan.

            Selanjutnya di akhir semester satu, aku memperoleh banyak pelajaran menjelang akhir semester satu ini melalui merapi yang meletus. Tidak hanya pelajaran Dhohiriah yang aku dapat, tapi batiniah pula saya peroleh bersama mereka di prambanan, bersama mereka di jalan, bersama mereka di pasar dan bersama mereka aku peroleh pelajaran yang amat berharga untuk hidupku.

            Tragedi merapipun tidak hanya memberiku banyak pelajaran, tapi ada hadiah yang aku dapatkan dari kejadian itu. Best Buddies adalah nama hadiah itu Hany, Riza, Dinda, Nadia, Hilda, dan Erlin. (Moga kita tetep bersahabat tanpa dan atau tanpa nama BB yah, amiin)

            Akupun menutup semester satu dengan berjalan berdampingan dengan Best Buddies. Banyak kisah serta cerita yang berkesan dengan mereka dan tentunya berharga. Sebenarnya Best buddies sendiri komposisi dari dua persahabatan yang menjadi satu yaitu terdiri dari tiga laki-laki yakni aku, riza, dan hany (3 Idiot, mereka menyebut begitu, tapi bagi kami tanpa nama tersebut kita bertiga adalah sahabat akrab bahkan keluarga), dan 4 orang perempuan Hilda, Nadia, Dinda, dan Erlin. Mereka berempat juga sebenarnya sudah bersahabat, namun inilah yang di berikan merapi di hari bersama kalian yang kemudian dua kubu itu menyatu menjadi best buddies, Nadia adalah penggagas nama Best Buddies untuk nama persahabat kita. Namun “Tanpa nama itu aku sayang sama kalian” begitulah pengakuan Riza kita melalui Hilda saat masa kritis vacuum kita, Best Buddies.

            Ganti topik akh, jangan best buddies mulu. Masih banyak yang belum diceritain, lagi pula ga bakal cukup kertasnya kalau cuman cerita tentang Best Buddies.

            Awal semerter dua tidak begitu banyak kisah yang seru menurutku, bahkan terasa monoton, sampai akhirnya Riza nagajak rekan sekelas keliling pantai jogja yang akhirnya mulai mensetimulus keakraban kelas, akupun mulai agak akrab dengan yang rekan cewek, agak mencandai mereka.

            Sampai-sampai ketika di akhir semester dua ada temen perempuan yang berani mengatakan “Kamu sudah punya istri yah?”, “Ko’ terkesan agak jauh dengan cewek, apa kamu kamu ga suka ama cewek, dan jangan-jangan suka sama Riza dan atau Hany hayoo?”.

Aku malah bingung sendiri, pasalnya aku ga terlalu cuek-cuek amat dengan cewek ko’. Mungkin aku ga bisa akrab aja kali yah, atau tepatnya aku sekedar kenal aja kali yah. Atau apalah, tapi aku ga cuek ko ama cewek, dan bukan alasan juga kalau aku ke kampus jarang disisir rabutnya plus ga di minyakin rambutnya sehingga terkesan ga pernah mandi terus cuekin kaum cewek karena kurang PD atau gimana. Alasannya sih aku membatasi aja akrab dengan cewek, tapi bukan berarti aku cuek, buktinya Dinda, Nadia, Hilda, dan Erlin aku akrabin ko’.

Dan kalo aku dengan hani dan riza?, karena lebih sering kita bertiga seh, kamana-mana bareng, dan bahkan bisa dibilang aku ga bisa kemana-mana tanpa Riza atau Hany. Iyalah, pasalnya aku hoby nebeng ama mereka berdua, dari mulai minta anter ambil duit, beli peralatan mandi/apapun, sampe les dan acara apaun aku lebih sering bersama mereka. Dan klo ditanya apakah aku suka sama mereka? Aku jawab lantang, memang aku suka ama mereka, suka bareng aja.
Sebagai penutup,

Makasih yang sebesar-besarnya untuk Dzat Yang Maha Besar, Allah.
Untuk Para malaikat yang setia menjadi abdiNYA,
Untuk Para Nabi dan Rosul yang amanah mendidik dan mengajarkan Syari’atNYA,
Untuk Kitab yang berisikan ayat-ayat AgungNYA,
Untuk syujud yang menundukkan hati dihadapanNYA,
Untuk Mamah dan Mimih, Adik, dan Ade’ kecil yang setia menemani di jalanNYA,
Untuk ibu Mar dan Pak Daliman yang menyayangiku layak seorang anak,
Untuk Kang Tantri, Kang Yanto, Kang Supri yang aku rindu,
Untuk Umih dan Abinya ang Unus yang baik hati
Untuk Bapak dan Ibunya Toni yang baik hati
Untuk seluruh keluarga besar Mamah dan Mimih,
Untuk Peremuan yang aku sebut Pelangi yang telah membiru sejukkan hidupku,
Untuk Ibu Santun P.P. Santun Cirebon
Untuk Abi dan Umi, Asatizd dan Asatzdah P.P. Nuurusshiddiq Cirebon
Untuk Kyai H. Afif Zuhri AminKyai sekeluarga dan Asatizd P.P. Roudlatut Tholibin Babakan
Untuk H. abdul Qahar sekeluarga dan Kyai Ali Munir sekeluarga, serta Asatizd dan asatizdah P.P. Assanisi Babakan
Untuk Adik-adikku serta kakak-kakakku yang menjadi figur-figur langkahku
Untuk guru-guruku dari TK sampai Kuliah
Untuk Teteh yang suka cerewet dan nyebelin, tapi rajin nenangin.
Untuk Mbak Nin dan Mbak Lulu, semoga sukses yah tugas akhirnya
Untuk Dr. Ratna R.S. Sardjito Yogyakarta yang sabar dan tekun mengobatiku
Untuk Para Perawat R.S. Sardjo; Mas Heru, Mbak Wari, Mba Andin dan dua Mbak lagi yang belum aku kenal secara akrab tapi wajahnya sangat aku kenali, yang tulus merawatku
Untuk keluarga besar IMMAN Yogyakarta, sahabat Majelis Bimbingan Dakwah MMC, rekan-rekan EDSA UAD, debaters DECO UAD, konco-konco Teater PeBeI, dan ikhwan-akhwat KAMMI.
Untuk teman-teman Kosan SEROJA yang selalu meramaikan hari.
Untuk sahabat-sahabatku, teman-temanku yang silih berganti mengisi sejarah hidupku,
Dan untuk semua pihak yang telah berperan dalam langkah hidupku yang ga bisa aku sebut satu per satu

Terakhir,
Maaf bila ada kesalahan dalam penulisan atau penyampaian. Heheh
Semoga bermanfaat, amiin.
Alhamdulillah, segala Pujiku bagiMU dan hanya kepunyaanMU. Semoga Engkau menyokong keistiqamahan kami serta meridhai langkah kami di jalanMU. Amiin
Wallahu ‘a’lam bishshowab

OBROLAN; HARAP serta INGIN IZAL & IZUL, MBD


Bismillahirahmanirrahim.
Suatu sore,
Teng nong neng nong bunyi sms hape jadul N1280 cukup mengagetkan lamunanku. Sudah jadi hobi kali yah nglamun?, ngrenung ding. Ngrenungin apa coba?, hayo?. Ga bisa jawab yah?. Yaudah baca dulu deh smsnya.

“Jika dalam hati kita ada perasaan benci atau senang kepada seseorang, maka nilailah perbuatannya itu berdasarkan al Qur’an dan Sunnah Rasul. Kalau kita benci kepada orang lain dan perbuatan orang lain itu dibenci dalam Qur’an dan Sunnah maka layak bagi kita untuk berbahagia karena kita benci kepadanya sejalan dengan Allah dan Rasul-Nya. Jika perbuatannya terpuji menurut Qur’an dan Sunnah sedangkan kita membencinya, maka ketahuilah bahwa kita telah berpihak kepada hawa nafsu. Kita membencinya karena hawa nafsu kita dan itu berarti kita telah durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya karena telah melanggar Qur’an dan Sunnah. Maka hendaknya kita bertaubat kepada Allah dari kebencian kita terhadap orang tersebut serta memohon Kepada Allah agar kita menyenangi orang tersebut. Begitu juga terhadap orang yang kita cintai, nilailah perbuatannya berdasarkan Qur’an dan Sunnah. Jika perbuatannya sesuai dengan Qur’an dan Sunnah, maka CINTAILAH DIA. Jika perbuatannya di benci Qur’an dan Sunnah maka BENCILAH DIA.”
Langsung saja aku menelan ludah berkali-kali, pasalnya sulit juga untuk melakukan hal yang demikian, seringnya nafsu yang lebih jaya dan berhasil membuat K.O. si hati (harusnyakan si Hati yang membuat kocar-kacir si nafsu). Yah semoga saja kedepan bisa berubah jauh lebih baik lagi yah, baik saya, para sahabat saya, para pembaca, dan bagi kita semua. Amiin ya Robbal ‘alamin.

Tiba-tiba saya teringat sms sahabatku ini sekitar satu bulan yang lalu begini smsnya, emh bentar buka hape dulu.
Messages, select, drafts. Nah ini dia smsnya (garing banget sih, hihihihi)

“Zul, saya punya keinginan ketika saya nikah nanti, saya ingin memberdayakan Sahabat-sahabat MBD (Majelis Bimbingan Dakwah). insyaAllah.”

Demikianlah kiranya sms yang saya terima dari rekan sekaligus sahabat saya Izal, yang membuat saya sontak dan senyum-senyum sendiri, yang selalu memberi petuah yang bermanfaat untuk aku pribadi khususnya, dan yang membaca pada umumnya [emang pembaca tau nasehat apa? Hehehe, yang diawal adalah salah satunya] insyaAllah.
Yang jadi pertanyaan, kanapa saya malah teringat sms diatas (sms yang sebulan lalu)?, apa hubungannya coba?. Ckckck, yaudah dihubung-hubungin aja deh. [maksain banget].

Emh, diataskan sahabatku, Izal sms panjang masalah cinta-cinta gitu jadi saya buka sms yang agak berkaitan. Hubungan Cinta dan Nikah [How old am I?, hehehe], kesannya kayak orang yang mau buru-buru nikah. Padahal mah enggak, selain hanya untuk wacana kedepan aja kali yah. Tepatnya, planning kedepan dalam pencarian pasangan hidup (cie,, sok iye banget. Habis dapet nasehat masalah menyukai dan tidak menyukai sesorang seh, jadi agak wajar kan klo jadi punya fikiran demikian, asal jangan jadi orang yang panjang angan aja ntr lupa bersyukur. Sepakat?[kaya konferensi aja.] hehehe.)

Saya jadi dapet gambaran [tepatnya bayangan] kalau nanti yang nge-MC, Pembaca Qur’an dan Tilawah, Pelantunkan Shalawat, Penceramah, Hiburan lagu-lagu islami, Menikahkan, Pemberi Khutbah Nikah, dan sebagainya adalah Sahabat-sahabat MBD. Seru, manfaat, full berkah , full colour, full nostalgila , eit salah, nostalgia ding(hehehe), en full segala kebaikan serta keridhaan-NYA deh. Amiin.

Ada satu yang belum, emmh apa yah?

Bingung nulisnya eui, enaknya di tulis apa ga yah?. Barusankan inginnya yang nge-MC, Pembaca Qur’an dan Tilawah, Pelantunkan Shalawat, Penceramah, Hiburan lagu-lagu islami, Menikahkan, Pemberi Khutbah Nikah, dan sebagainya adalah Sahabat-sahabat MBD. Terus yang jadi pertanyaan siapa yang jadi pasangannya?, apa berharap juga dari salah satu dari Sahabat-sahabat MBD?, nah loh. Jodohkan kehendak yang kuasa, Allah. Tapi bolehkan kalau punya keinginan dan harapan?, (keinginan dan harapan apa hayo?, mendapat salah seorang dari Sahabat-sahabat MBD yah?, hayo? Hahahaha. [Husstss jangan keras-keras]).
Udah ah ga usah di tulis, biar Rahasia tetap rahasia, karena masa depan adalah rahasia. Rahasia yang haqiqi, cuman milik Allah. Dan kita? Hanya di beri pengetahuan melainkan sedikit atas segala rahasia-rahasianya. Manusia hanya diberi kesempatan untuk merencanakan, berencana dan bertujuan, melainkan Allah adalah Pemegang segala keputusan. Berencana yang baik, karena bisa jadi keburukan yang direncanakan akan mengalahkan kebaikan yang tidak di rencanakan[Na’audlubillah]. Betul begitu? (bener ga?). Maka rencanakanlah kebaikan untuk meraih Keridahaan-Nya.
Semoga kita semua memperoleh kebahagiaan yang Haqiqi, kebahagiaan yang menambah kedekatan pada Pemegang Penuh seluruh jagat serta segala sesuatu, amiin.

Emmh sudah di ujung lembaran nih, udahan ahh. Terahir sebelum diakhiri saya jadi teringat kata-kata yang saya peroleh dari seorang ukhti (hayoo siapa tuh?, hehehehe. [ada deh mau tau aja], hems iya deh) di MBD yang dia peroleh dari referensi bacaannya, begini kata-kata itu ter urai “Kekayaan yang Haqiqi adalah kaya hati”.


dan tertakdir menjalani segala kehendakmu ya robbi
ku berserah ku berpasrah hanya padamu ya robbi
dan tertakdir menjalani segala kehendakmu ya robbi
ku berserah ku berpasrah hanya padamu ya robbi
hanya padamu ya robbi
(takdir, Opick)

Alhamdulillahirobbil ‘alamin
waAllahu a’lam bishshowab